Bersama Siswa-siswi Campaniga

Pengalaman Mengawas Ujian Nasional di Desa Campaniga (Daerah Terpencil).

KAMPUS STKIP MUHAMMADIYAH BONE

The Last Meeting Mahasiswa Semester 5 Jurusan Bahasa Inggris STKIP Muhammadiyah Bone.

Gerakan Literasi SD Inpres 12/79 Congko

Program membaca 15 menit setiap hari siswa-siswi kelas 5 SD Inpres 12/79 Congko.

Kamis, 18 Desember 2025

Nilai Boleh Turun, Tapi Cinta Orang Tua Tak Pernah Menurun



Nilai Boleh Turun, Tapi Cinta Orang Tua Tak Pernah Menurun

(Renungan Menjelang Penerimaan Rapor)

Penerimaan rapor adalah momen penting bagi para siswa. Ia menjadi cermin dari proses belajar selama satu semester. Rapor adalah selembar kertas yang memuat angka, catatan, dan evaluasi. Bagi sebagian anak, rapor menjadi sumber kebanggaan dan pujian. Namun, bagi yang lain, ia bisa menjadi sumber kecemasan, bahkan ketakutan.

Tak sedikit anak yang menyambut hari penerimaan rapor dengan hati was-was. Mereka takut mengecewakan orang tua. Seorang siswa pernah berbisik kepada saya, Puang, janganki kirimkan nilai ulanganku ke grup. Naliat nanti mamaku, dimarahika lagi.” Kalimat sederhana, tapi menyimpan beban psikologis yang besar.

Ketika Harapan Tak Sesuai Kenyataan

Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Nilai rapor (ujian) yang “tuntas” sering kali dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan. Maka, ketika hasil tak sesuai harapan, wajar jika muncul rasa kecewa atau khawatir. Namun, perlu diingat: ekspresi kemarahan yang berlebihan atau membandingkan anak dengan yang lain justru bisa melukai dan mematikan semangat belajar mereka.

Setiap Anak Unik dan Punya Potensi

Nilai ulangan yang rendah bukan berarti anak tidak pintar. Tidak ada anak yang bodoh. Seperti kata Albert Einstein,  “Semua orang itu jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup seumur hidupnya dengan percaya bahwa ia bodoh.”

Kecerdasan anak tidak hanya tercermin dari angka-angka di rapor. Ada anak yang unggul dalam akademik, tapi kesulitan dalam keterampilan praktis. Ada pula yang nilai akademisnya biasa saja, namun memiliki sikap, empati, dan tanggung jawab yang luar biasa. *Semua anak punya kecemerlangan dalam bidangnya masing-masing.*

Orang Tua: Mendampingi, Bukan Menghakimi

Daripada memarahi, lebih baik orang tua bertanya:

- Apa yang membuat nilai anak menurun?

- Apakah ada kesulitan dalam memahami materi?

- Apakah anak butuh bantuan belajar atau tutor?

Komunikasi yang terbuka dan penuh empati akan membuat anak merasa aman untuk jujur. Dari sanalah orang tua bisa membantu anak menemukan metode belajar yang tepat, memberi motivasi, dan membangun kembali kepercayaan dirinya.

Doa dan Kesabaran: Kunci Keberhasilan

Selain usaha, jangan lupakan kekuatan doa. Selipkan nama anak dalam setiap sujud dan harapan. Karena sejatinya, doa orang tua adalah senjata paling ampuh untuk mewujudkan anak yang kita dambakan*.

Mari kita bangun kedekatan emosional dengan anak melalui kehadiran orang tua, khususnya ayah, saat pengambilan rapor. Kehadiran ini tidak hanya menunjukkan dukungan tapi juga menciptakan rasa nyaman, kebahagian dan menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk menghadapi semester berikutnya.


Anak-anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tapi mereka takkan lupa bagaimana kita membuat mereka merasa.
 





Selasa, 25 November 2025

Memaknai Hari Guru Nasional dengan Prinsip Pembelajaran Mendalam

 



Memaknai Hari Guru dengan Prinisp Pembelajaran Mendalam

Momentum hari guru yang ke-80 sepatutnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai perayaan yang penuh kegembiraan dengan berbagai macam kegiatan, mulai perlombaan, jalan santai dan pembagian door prize. lebih daripada itu kita jadikan refleksi diri setahun lalu perjalanan karir kita sebagai guru. Berbagai ungkapan kontraversial yang muncul ke publik beberpa waktu yang lalu. salah satunya adalah Guru disebut beban negara. Anggaran pembayaran tunjangan guru dianggap menjadi beban APBN ditengah besarnya utang negara. Menganggap guru beban negara pasti kita tidak sepakat karena sangat problematik dan tidak realistis. Seolah-seolah melupakan peran guru di masa lalu.

Diksi negatif terkait eksitensi guru tidak akan mengurangi kemuliaan guru. Menjadi guru adalah pilihan hidup. Harus diyakini bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia, artinya guru memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat.

Tiga prinsip yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kemuliaan dan kehormataan guru,

1. Prisnip Berkesadaran

Guru berkesadaran adalah guru yang memotivasi diri untuk belajar. Motivasinya untuk terus memperluas wawasan menjadikannya pembelajar sepanjang hayat (longlife education)  tidak pernah berhenti belajar. untuk bisa mengajar dengan tulus, pola pikirnya selalu bertumbuh (growth mindset) . Guru berkesadaran siap beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan zaman. Guru berkesadaran menjalankan amanah dari Tuhan. Tugasnya sebagai guru akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Maka tidaklah keliru Bapak Menteri Agama pernah berucap kalau mau cari uang jangan jadi guru, Jadilah pedagang. secara substansial, Pak menteri mengingatkan guru bahwa hakikat profesi guru itu adalah ibadah kepada Allah, bukan hanya amal dunia semata akan tetapi juga amal akhirat (amal jariyah). Pahala akhirat jauh lebih baik dari keuntungan materi yang didapatkan menjadi seorang guru.Bayaran termahal seorang guru adalah ketika  murid memiliki perilaku yang baik.

Dengan kesadaran penuh terhadap tanggungjawab dan perannya sebagai guru, maka akan terdorong melakukan pembelajaran yang bermakna di dalam kelas.

2. Prinsip Bermakna

Guru bermakna adalah guru yang berkomitmen meningkatkan kualitas diri, menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan membentuk karakter yang meninggalkan kesan positif di dalam diri murid. Guru Bermakna kehadirannya di dalam kelas tidak hanya secara fisik tetapi secara hati dan fikirannya.  Indikator guru bermakna adalah mengajar dengan cinta dan mendidik dengan hati.

Pernahkah kita merasa gelisah ketika tidak masuk kelas? Pernah kita merasa rindu dengan murid?. Jika demikian, berarti benih cinta sudah tertanam dalam diri kita.

Mengajar dengan cinta menciptakan persahabatan dengan murid. Lembut tapi tidak memanjakan. mengedepankan karakter murid, mengajarkan perilaku positif, menghargai teman, bertutur kata sopan. Dengan cinta akan melahirkan kekuatan dan semangat dalam diri guru dan siswa. Ketidakhadiran kita di dalam kelas, murid akan merasa kehilangan. Begitu pun sebaliknya. Ketiadaan seorang siswa di dalam kelas, mendorong kita untuk mencari tahu tentang ketidakhadirannya.

Mendidik dengan hati adalah menanamkan keikhlasan. Ikhlas dalam konteks ini berarti bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembang sebagai seorang guru dianggap sebagai ibadah kepada Allah dan benar-benar murni dari dorongan hati nurani untuk sebuah pengabdian utuk mewujudkan generasi berkarakter dan unggul.

Guru bermakna benar-benar meresapi dan menghayati profesinya sebagai seorang pendidik dengan sepenuh hati dan jiwanya. Hal ini akan memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk bersungguh-sungguh berupaya memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Tidak asal melepas tanggung jawab saja, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup dan kehidupannya.

3. Prinsip Membahagiakan

Guru yang menggembirakan bukan berarti selalu membuat siswa tertawa tapi membuat murid merasa nyaman, diharagai dan bersemangat untuk belajar dalam suasana kelas yang menyenangkan.

Saya terinspirasi dengan salah seorang peserta  pelatihan pembelajaran mendalam beberapa pekan yang lalu. dia punya pengalaman mengajar bahwa setiap  kali masuk kelas selalu diawali dengan senyum. Sebuah langkah kecil tapi dampaknya luar besar. Tidak hanya sebatas ekspresi wajah tetapi starterpoint positif yang membuka ruang belajar yang menyenangkan. Dengan senyum mecairkan suasana dan membangun hubungan emosional dengan murid. 

Dengan menerapkan prinsip berkesadaran dan prinsip bermakna maka akan mengantar dan membuka ruang bagi kita menjadi guru yang menggembirakan.

Selamat HUT ke-80 PGRI dan HGN 2025.

Hidup Guru! Hidup PGRI!, Solidaritas, Yes!, Siapa? Kita Indonesia!